Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Siaran Pers No. 50/Kom-Publik/Kemenpora/12/2016: Laporan Pertanggung Jawaban Pelaksanaan Indonesia Soccer Championship 2016

Rabu, 28 Desember 2016

(Jakarta,  28 Desember 2016). Kemenpora melalui Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga pada tanggal 27 Desember 2016 telah mengirimkan surat No. 1414/D.IV/12/2016 kepada Direktur Utama  PT Gelora Trisula Semesta selaku operator turnamen Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Surat ini disampaikan sebagai permintaan respon mengingat ISC 2016 telah berakhir di akhir tahun 2016 dengan lancar meskipun ada berbagai dinamika persoalan saat berlangsungnya turnamen tersebut. Namun demikian, mengingat turnamen tersebut di antaranya bisa berlangsung karena adanya rekomendasi dari Kemenpora pada akhir bulan April 2016 berdasarkan keberadaan surat PT GTS  No. 047/GTS/IV/2016 tertanggal 18 April 2016 perihal permohonan rekomendasi Indonesia Soccer Championship 2016, maka Kemenpora melalui siaran pers ini kembali mengingatkan agar laporan kegiatan pelaksanaan Indonesia Soccer Championship 2016 untuk dapat segera disampaikan kepada Menpora.

 

Sebagaimana tersebut dalam rekomendasi Kemenpora, pada prinsipnya Kemenpora saat itu menyambut baik atas inisiatif PT GTS untuk menyelenggarakan ISC  2016, dengan persyaratan: a. Dengan tetap berkomitmen untuk melaksanakan permintaan Presiden Joko Widodo tentang perlunya reformasi total persepakbolaan nasional Indonesia pada saat menerima audiensi PT Gelora Trisula Semesta, Asprov, klub professional dan divisi utama di Istana Negara pada tanggal 15 April 2016; b. Dengan tetap mematuhi UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan FIFA Club Licensing Regulation, AFC Club Licensing Regulation serta PSSI Club Licensing Regulation; c. Dengan tetap konsisten menerapkan Good Corporate Governance (GCG) di semua level kompetisi (Club Licensing Regulation A; Club Licensing Regulation B; Club Licensing Regulation Under 21; Piala Nusantara; dan Piala Soeratin Under 17;  d. Dan dengan tetap mematuhi Cooperation Agreement antara Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) dan PT Gelora Trisula Semesta yang telah ditanda-tangani pada tanggal 27 April 2016.

 

Kemenpora memahami bahwa upaya PT GTS untuk melaksanakan dan sebagai yang bertanggung-jawab terhadap kegiatan ISC 2016 tidaklah mudah karena awalnya berlangsung pada saat pembekuan terhadap PSSI masih berlangsung. Selain itu turnamen tersebut juga cukup efektif mengisi kekosongan kegiatan kompetisi persepakbolaan nasional untuk durasi waktu yang cukup panjang setelah sebelumnya telah berlangsung sejumlah turnamen lain yang diselenggarakan oleh penyelenggara lain, antara lain Piala Kemerdekaan, Piala Presiden, Piala Sudirman, Piala Bhayangkara dan Piala Gubernur Kaltim dan lain-lain.  Untuk itu, Kemenpora mengucapkan terima kasih kepada PT GTS  atas terselenggaranya turnamen tersebut.

 

Oleh karena itu, mengingat selama ini Kemenpora juga intensif menyampaikan permintaan laporan pertanggung-jawaban atas sejumlah insiden pada ISC 2016 seperti halnya saat kejadian konflik di Stadion Utama Senayan antara suporter Jakmania dengan aparat Polda Metro Jaya pada tanggal 24 Juni 2016, kerusuhan saat pertandingan antara PSS Sleman dengan Persinga Ngawi di Stadion Maguwoharjo – Sleman di bulan Agustus 2016 dan juga persoalan validitas sejumlah pemain asing yang merebak kontroversinya sejak akhir Agustus 2016 atas dasar data dari SOS (Save Our Soccer), konflik antar suporter pasca pertandingan Persija melawan Persib di Stadion Manahan Solo pada awal bulan November 2016 dan kesemuanya itu direspon dengan cukup baik oleh PT GTS kepada Kemenpora. Maka Kemenpora pun memandang penting untuk meminta laporan pertanggung-jawaban kegiatan ISC 2016, sebagai bahan referensi bagi Pemerintah maupun PSSI untuk kompetisi PSSI di tahun 2017, yaitu minimal secara obyektif untuk mengetahui:

1.      Sejauh mana tingkat fair play dari setiap klub.

2.      Sejauh mana tanggung-jawab setiap tuan rumah dalam menyelenggarakan pertandingan, karena ini belajar dari kasus kejadian pertandingan di Stadion Utama Senayan tanggal 24 Juni 2016 yang berdampak adanya kerusuhan setempat.

3.      Sejauh mana pemberlakuan FIFA Safety Guidelines bisa diterapkan.

4.      Apakah tes doping sempat dilakukan dengan sejumlah sample tertentu.

5.      Sejauh mana strata dan verifikasi pemain asing diberlakukan.

6.      Sejauh mana ketentuan logistik bisa ditaati.

7.      Sejauh mana akses peliputan media bisa terpenuhi.

8.      Sejauh mana distrikusi tiket bisa dijamin ketersediaan dan aksesibilitasnya.

9.      Seberapa jauh dukungan medis terpenuhi.

10.  Sejauh mana prosedur disiplin dan banding dapat diterapkan.

11.  Sejauh mana kewibawaan wasit dan perangkat pertandingan lainnya dapat terjaga.

12.  Sejauh mana kewajiban finansial klub terhadap pemainnya dapat terpenuhi.

13.  Sejauh mana hubungan dengan kelompok suporter dapat dilakukan secara konstruktif.

14.  Sejauh mana hak siar dapat diterapkan secara konsisten dan transparan.

 

--------------------

Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga merangkap sebagai Kepala Komunikasi Publik Kemenpora (Gatot S Dewa Broto, HP: 0811899504, Email: gsdewabroto@gmail.com, Twitter: @gsdewabroto).

Maret 2017
Min
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31