Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Bali IFC 2018 Dinilai Peserta Negara Lain Ajang Tepat untuk Menimba Pengalaman Pemain Muda


Ajang Bali International Football Championship (IFC) U-15 2018 dianggap dapat memberikan pengalaman berharga bagi setiap pemain muda yang ikut serta. Sebagian besar tim-tim dari negara lain menginginkan Bali IFC dapat diselenggarakan rutin oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). (foto:kevin/kemenpora.go.id)
Bali: Ajang Bali International Football Championship (IFC) U-15 2018 dianggap dapat memberikan pengalaman berharga bagi setiap pemain muda yang ikut serta. Sebagian besar tim-tim dari negara lain menginginkan Bali IFC dapat diselenggarakan rutin oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga  (Kemenpora). 
 
Sebagian peserta merasa ajang IFC 2018 seperti ini adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan pembinaan sepakbola usia dini. Semakin banyaknya kompetisi yang digelar oleh negara-negara lain, secara otomatis akan menambah jam terbang dan pengalaman bagi pemain usia dini.     
 
Pelatih klub sepak bola Filipina Apuesto Bueno United FC Aeyh Fabroada misalnya, ia mengatakan pada dasarnya, Bali IFC merupakan kompetisi yang memang dibutuhkan untuk bisa meningkatkan jam terbang. “Tanpa adanya kompetisi, pemain binaan Apuesto hanya jalan di tempat. Kami berharap Bali IFC bisa kembali diadakan dan kami kembali diundang,” kata Fabroada usai pertandingan Kamis (6/12)
 
Namun, Fabroada mengatakan Bali IFC bukan lah satu-satunya turnamen internasional yang diikuti oleh Apuesto. Ada beberapa kompetisi di luar Filipina yang telah diikuti dan salah satunya pernah diselenggarakan di Korea Selatan. Setidaknya, Apuesto mengikuti kompetisi internasional hingga dua kali dalam setahun. “Kami juga ikut kompetisi yang ada di dalam negeri dan itu jumlahnya banyak,” imbuh dia.
 
Pelatih klub asal Korea Selatan Busan FC, Jeong Seon Hong, juga mengatakan para pemainnya juga selalu diikutkan ke berbagai kompetisi. Untuk yang level internasional atau diselenggarakan di luar negeri, frekuensinya bisa dua kali per tahunnya."Secara bertahap dan melalui berbagai pertandingan, pemain diajarkan teknik bermain. Latihan pun sudah terpusat sejak pemain masih kecil,” kata Seon Hong. 
 
Sementara Bambang Warsito yang merupakan pelatih klub Indonesia Bara FC, mengatakan meski kompetisi penting, jangan mematok target yang terlalu berat untuk pemain muda. Menurutnya, jika masih di usia sekolah dasar, ada baiknya setiap pemain diajarkan mengenai pemahaman formasi.
 
“Baru di kompetisi yang lebih tinggi mulai belajar strategi bermain yang agak lebih rumit. Tapi, untuk pembinaan usia dini, yang sangat penting, ialah menjaga mental agar tidak cepat menyerah dan terus mau belajar,” kata Bambang. (amr)