Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Stadion Beji Mandala, Lapangan Desa Disulap Berstandart Internasional untuk Kembangkan Olahraga dan Wisata Bali


Ajang Bali International Football Championship (IFC) 2018 memiliki dampak besar bagi Desa Pecatu, Kabupaten Badung, Bali. Selain menarik dunia wisata melalui olahraga sepakbola, Desa Pecatu sekarang memiliki lapangan desa yang berstandart internasional. (foto:amar/kemenpora.go.id)
Bali: Ajang Bali International Football Championship (IFC) 2018 memiliki dampak besar bagi Desa Pecatu, Kabupaten Badung, Bali. Selain menarik dunia wisata melalui olahraga sepakbola, Desa Pecatu sekarang memiliki lapangan desa yang berstandart internasional. 
 
Satu jam sebelum kick off Bali International Football Championship (IFC) 2018 dimulai dengan pertandingan pertama antara Timnas Pelajar U-15 Indonesia melawan  Apuesto Bueno United Filipina, Perbekel (Kepala Desa) Pecatu I Made Karyana Yadnya tampak terlihat sibuk di pinggir lapangan memeriksa kondisi rumput yang akan dipakai pertandingan. Dia ingin memastikan semua kondisi Stadion Beji Mandala dalam keadaan baik sebagai tempat digelarnya Bali IFC 2018. 
 
"Saya dari kemarin terus memantau kondisi stadion, mulai dari lapangan luar lapangan. Sebagai kepala desa, saya memiliki tanggung jawab agara acara Bali IFC 2018 ini berjalan dengan baik dan lancar. Semua harus saya pastikan dalam kondisi baik untuk menggelar pertandingan ini, apalagi kita di ikuti peserta dari negara luar seperti Jepang, China, Korsel bahkan Australia yang memiliki atmosfer sepakbola yang baik," katanya.
 
Stadion Beji Mandala yang terletak di Desa Pecatu memang cukup mengesankan. Dari ukuran lapangan yang dipakai sudah berpatokan standart minimal ajang internasional dengan ukuran 110 x 75 meter, ditambah lagi dengan kondisi rumput yang memakai tipe rumput Mini Jepang dengan tekstur yang cukup halus. Apalagi ditambah dengan dipasangnya 8 titik lampu dengan kekuatan 8000 watch untuk menambah pencahayaan ketika malam. 
 
Menurut I Made Karyana, lapangan ini dimulai pembangunannya dari tahun 2014. Awal stadion ini berasal dari sebuah lapangan desa biasa yang letaknya berada di balik bukit yang digunakan masyarakat desa Pecatu bermain bola. Karena memiliki keinginan mengembangkan sepakbola yang digabung dengan wisata di daerah Pecatu, Karyana akhirnya serius memuliai pembangunan Stadion yang memiliki standart internasional. 
 
"Dulu ini hanya lapangan biasa yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat bermain bola. Karena saya ditunjuk sebagai Kepala Desa, saya mencoba berpikir mengembangkan lapangan ini selain untuk fasilitas olahraga masyarakat juga bisa menarik wisatawan untuk datang melihat lapangan ini. Oleh karena itulah saya bangun lapangan ini dengan standart internasional," tambah Karyana.
 
Dengan adanya Bali IFC 2018 ini, Karyana mengatakan cukup memiliki manfaat yang besar untuk masyarakat Pecatu. "Sebagian besar masyarakat di sini sangat senang dengan sepakbola, buktinya hari pertama kemarin banyak penonton baik dari luar atau masyarakat lokal sendiri datang ke stadion. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Kemenpora yang sudah mempercayakan kepada kami untuk menggelar pertandingan bertaraf internasional di desa ini," ucap Karyana. (amr)