Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Harapan Pino Bahari yang Ingin Petinju Muda Indonesia Akhiri Puasa Emas di Asian Games 2018


Menjadi penoreh emas terakhir dari cabang olahraga tinju di ajang Asian Games 1990 membuat Pino Bahari merasakan dahaga juara untuk Indonesia. Pria kelahiran 15 Oktober 1972 itu ingin ajang Asian Games tahun ini menjadi kesempatan emas bagi petinju muda Indonesia untuk mengembalikan kedigdayaan tinju Indonesia di pentas Asia. (dok/kemenpora.go.id)
Jakarta: Menjadi penoreh emas terakhir dari cabang olahraga tinju di ajang Asian Games 1990 membuat Pino Bahari merasakan dahaga juara untuk Indonesia. Pria kelahiran 15 Oktober 1972 itu ingin ajang Asian Games tahun ini menjadi kesempatan emas bagi petinju muda Indonesia untuk mengembalikan kedigdayaan tinju Indonesia di pentas Asia.      
 
Pino berharap akan muncul petinju yang mengakhiri puasa medali Indonesia di pesta olahraga antar negara Asia tersebut. Ia menilai status sebagai tuan rumah merupakan keuntungan yang harus dimaksimalkan. “Saya berharap kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games ini dapat didukung oleh masyarakat sepenuhnya dengan turut hadir dan mendukung langsung ke venue-venue, memberikan semangat kepada atlet yang bertanding, dan tentunya tidak lupa membantu mendoakan atlet, pelatih, dan seluruh tim nasional agar mampu berprestasi maksimal,” tutur dirinya.
 
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, Pino sedikit menceritakan perjalanan kariernya di dunia tinju yang mulai dirintis dari kecil bersama sang ayah Daniel Bahari. Sejak kecil dirinya sudah dilatih oleh ayahnya untuk bertanding dengan lawan yang umurnya jauh lebih tua. Contohnya, ketika Pino masih duduk di Sekolah Dasar, ia bertanding dengan anak-anak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.    
"Dari kecil saya sering dilatih oleh ayah untuk bertanding dengan lawan yang lebih tua atau besar. Bahkan ketika saya di Bali, saya sudah terbiasa bertemu dengan orang asing. Itulah salah satu kelebihan kami secara geografis, sering bertemu dan latih tanding dengan orang asing. Jadi, tidak ada lagi penghalang mental berkompetisi dengan petinju asing. Masalah mental ini yang sering menjadi penghalang bagi petinjut-pentinju lain," ucap Pino.
 
Tentu saja, Daniel, yang merupakan pelatih, promotor, dan manajer petinju-petinju nasional memiliki alasan sendiri di balik metode latihan untuk anaknya. Pino menjelaskan bahwa selama bertahan di ronde pertama, ia tidak hanya diajarkan cara meningkatkan teknik pertahanan, melainkan sekaligus juga cara menghindar dan membaca pukulan lawan. “Di ronde awal, saya dipaksa untuk mempelajari tipe permainan lawan dan melihat peluang, jadi di ronde kedua sudah ada di benak kita hal yang akan kita lakukan. Hal ini yang melatih kemampuan bertanding saya,” kenang Pino yang saat itu berlatih bersama ketiga adiknya Nemo Bahari, Champ Bahari, dan Daudy Bahari. 
 
Pino mengaku sebenarnya sempat merasa tertekan dengan gaya latihan yang diberikan oleh ayahnya. Bahkan, ia menilai masa-masa persiapan terasa seperti neraka, tetapi ia paham bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan dirinya sendiri.“Ayah saya sangat keras. Rasanya memang seperti separuh dipaksa, tetapi jika anak tidak diarahkan, maka tidak akan mahir. Itu yang saya syukuri,” tutur Pino.
 
Ketika baru berusia 17 tahun, perjalanan prestasi Pino ternyata terus meningkat. Salah satunya ketika mengikuti Kejuaraan Tinju Junior Nasional pada 1988, dia mampu memukul KO seluruh lawannya tidak lebih dari tiga ronde. “Dengan hasil seperti itu, saya jadi lebih percaya diri bahwa latihan saya selama ini memang dampaknya luar biasa,” kata Pino. 
 
Torehan prestasi itu langsung mengantarkan Pino masuk pelatnas dan dipersiapkan membela Merah-Putih untuk kelas Menengah di pentas Asian Games 1990, Beijing, China. Ia pun langsung mendapat kesempatan terbang dari Indonesia ke Jerman Timur untuk menjalani pelatnas sebagai persiapan Asian Games. Di sana, ia harus berlatih tanding dengan atlet-atlet yang berpostur lebih tinggi dan memiliki jangkauan pukulan lebih jauh. 
 
Latihan keras itupun akhirnya membuahkan hasil, Pino mampu menyingkirkan lawan demi lawan. Di babak final, ia mengalahkan Bandiin Atangarel asal Mongolia. Medali emas pun dibawa pulang ke tanah air. Pino sempat mengikuti beberapa turnamen amatir selepas Asian Games 1990. Ia mendapatkan medali perak di SEA Games 1995, sebelum memutuskan untuk pensiun satu tahun kemudian. Meski pensiun, Pino tetap tak bisa jauh dari dunia tinju. Ia membantu ayahnya di bisnis promotor tinju profesional. (dok