Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Melalui Media Sosial, Humas Harus Bersinergi Susun Strategi Komunikasi Deradikalisasi di Kalangan Generasi Muda


Sekretaris Utama Badan Nasional Terorisme BNPT Mayjen TNI R. Gautama Wiranegara menyampaikan Terorisme merupakan kejahatan luar biasa tingkat internasional dan berbahaya bagi generasi muda. Hal itu disampaikanya saat membuka pertemuan Badan Koordinasi Kehumasan (BAKOHUMAS) di Hotel Best Western The Hive, Jakarta, Selasa (5/12) siang.(foto:westri/kemenpora.go.id)
Jakarta: Sekretaris Utama Badan Nasional Terorisme BNPT Mayjen TNI R. Gautama Wiranegara menyampaikan Terorisme merupakan kejahatan luar biasa tingkat internasional dan berbahaya bagi generasi muda. Hal itu disampaikanya saat membuka pertemuan Badan Koordinasi Kehumasan (BAKOHUMAS) di Hotel Best Western The Hive, Jakarta, Selasa (5/12) siang.

"Menurut data 8,5% siswa SMA se Jakarta-Bandung setuju Pancasila diganti dengan agama. Sedangkan dalam release bulan desember 2015 Saiful Mujadi Research mencatat bahwa 4% WNI usia 22-25th setuju dengan ISIS. Research lembaga Islam mencatat 50% setuju dengan tindakan radikalisme. 21% guru dan 25% siswa tidak setuju dengan Pancasila.
Dan Indonesia berada di posisi kedua stelah Rusia dalam hal keterlibatan warga negaranya dalam aksi teorisme di dunia," katanya.

Dimoderatori oleh psikolog Poppy Amalya, kegiatan Rapat Koordinasi Sinergitas Humas antar Kementerian/ Lembaga dalam Rangka Diseminasi Informasi terkait Program Penanggulangan Terorisme ini sebagai upaya melakukan diseminasi informasi terkait strategi komunikasi penanggulangan terorisme, terutama dikalangan anak muda yang menjadi pemain utama didunia maya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, Rosita Niken Widiastuti yang memaparkan fakta dan data  bahwa, menurut penilitian LIPI mengatakan masalah radikalisme dan terorisme mengerucut sudah ke tingkat pendidikan TK, SD, SMP SMA bahkan mahasiswa. 

"Doktor UIN, Bambang Pranowo juga meneliti bahwa 50% pelajar setuju tindakan terorisme 14,2% di antara mereka membenarkan serangan bom. Adanya informasi ini menunjukkan aliran dan paham radikalisme tumbuh subur dan berkembang di dunia pendidikan, dan terbuka melalui media sosial. Banyak anak pelajar Indonesia yang menjadi Lone Wolf paham radikalis yang dipandu dari Syiria," kata Niken.

Paham radikalisme terindikasi sudah mulai masuk dalam ranah politik dengan mnyusupnya kaum radikalisme yang menumpang dalam beberapa agenda politik nasional. Di mana foto dokumentasi kegaduhan nasional tersebut sudah tersebar hingga ke Syiria. BNPT beserta Polri sudah mencium indikasi negatif ini. Hal-hal semacam ini lah yang dikhawatirkan berpotensi dapat mencederai demokrasi.

Besarnya perhatian dan keperihatinan pemerintah akan fenomena radikalisme ini yang menempatkan tanggungjawab penanggulangan terorisme tidak hanya di BNPT, tapi juga harus melibatkan sinergi seluruh Kementerian/Lembaga Pemerintah melalui seluruh saluran/kanal publikasi Kementerian/Lembaga untuk membentengi generasi muda Indonesia dari tindakan pembenaran radikalisme. 

Menurut Ibnu Hammad M.Si
(Pakar Komunikasi dan Humas, Profesor Ilmu Komunikasi FISIP UI) yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut mengucapkan bahwa, berbicara komunikasi deradikalisme maka perlu didefinisikan terlebih dahulu apa itu anti radikal. 

Misalnya, yang disebutkan anti radikal adalah anti PBNU (Pancasila-Bhineka Tunggal Ika-NKRI-UUD45). Setelah mendefinisikan, maka langkah selanjutnya perlu ada target waktu kapan strategi komunikasi deradikalisme ini berlangsung, kemudian apa goal dari deradikalisme ini secara terukur. Sehingga jelas progressnya.

Untuk generasi muda, maka sosial media menjadi salah satu pendekatan soft power. Perlu mempelajari habitat generasi muda, kesukaannya. Sehingga tau bagaimana berkomunikasi deradikalisasi dengan mereka. Ke depannya melalui kegiatan ini diharapkan Humas Kementerian/Lembaga dapat terpacu kembali semangat bersinergi untuk gerakan deradikalisasi ini.(wes)