Grand Desain Olahraga Nasional, Olimpiade, dan Masa Depan Olahraga Kita

Minggu, 29 Agustus 2021
Bagikan:
Olimpiade 2020 berakhir pada 8 Agustus 2021 lalu. Ajang kompetisi olahraga paling akbar sedunia ini diadakan sejak 23 Juli lalu, diikuti oleh 11.090 atlet dari 205 negara. Hingga hari terakhir, Amerika Serikat berhasil menggusur China dalam kejar-mengejar
Olimpiade 2020 berakhir pada 8 Agustus 2021 lalu. Ajang kompetisi olahraga paling akbar sedunia ini diadakan sejak 23 Juli lalu, diikuti oleh 11.090 atlet dari 205 negara. Hingga hari terakhir, Amerika Serikat berhasil menggusur China dalam kejar-mengejar

Olimpiade 2020 berakhir pada 8 Agustus 2021 lalu. Ajang kompetisi olahraga paling akbar sedunia ini diadakan sejak 23 Juli lalu, diikuti oleh 11.090 atlet dari 205 negara. Hingga hari terakhir, Amerika Serikat berhasil menggusur China dalam kejar-mengejar medali, baik dari pencapaian medali emas maupun total akumulasi medali secara total. 

Tuan rumah, Jepang, secara spektakuler mencuri posisi ketiga terbaik melalui 58 medali. Sementara negara kita, Indonesia, menempati posisi ke-55 dengan perolehan 1 medali emas, 1 perak dan 3 medali perunggu, prestasi ini bagaimanapun kita nilai cukup baik dengan berbagai pertimbanganya. Olimpiade musim panas edisi kali ini banyak berbeda dengan penyelenggaraan olimpiade-olimpiade sebelumnya. Setelah ditunda selama setahun akibat merebaknya pandemi -19, akhirnya penyelenggaraannya dilaksanakan juga tahun 2021 ini. 

Wajar, disebabkan oleh pandemi banyak sekali program dan iven baik di skala lokal, regional maupun global terpaksa ditunda dan disesuaikan dengan kondisi terkini. Pada sekitar beberapa minggu menjelang pembukaan, IOC (International Olympic Comitee) bahkan mengumumkan Olimpiade kali ini dilarang dihadiri oleh penonton. Alhasil, inilah Olimpiade yang berlangsung dengan minus keriuhan teriakan dukungan penonton.

Terlepas dari kesuksesan Jepang menggelar Olimpiade di tengah gelombang badai Covid-19, tentunya banyak pembelajaran yang mesti kita ambil demi masa depan olahraga nasional kita. Berdasarkan data konkrit, pencapaian dari segi perolehan medali kali ini adalah yang terbaik di antara 3 penyelenggaraan terakhir (London 2012, Rio 2016 dan Tokyo 2020) Jika di Olimpiade London kita pulang tanpa emas, maka di Rio 2016 kita berhasil membawa pulang 1 emas, 2 perak namun tanpa medali perunggu.

*Berprestasi di Tengah Pandemi*

Sudah jamak di mana-mana, ajang kompetisi multi-iven olahraga sekelas Olimpiade dijadikan sebagai tolok ukur berhasil atau tidaknya grand-design pembinaan olahraga prestasi suatu negara. Betapa tidak, pada ajang inilah atlet paling berprestasi dan berreputasi berkumpul untuk bertanding menentukan siapa yang terbaik di antara yang terbaik. Pada ajang inilah pula dapat diukur sejauh mana program pembinaan olahraga suatu negara mencapai hasilnya.

Untuk menghasilkan atlet berprestasi tentunya tidak mudah. Seorang atlet yang ‘menjadi’ adalah hasil tempaan banyak tangan selain usaha keras diri si atlet itu sendiri. Menciptakan atlet yang berhasil mencapai prestasi puncak lebih memerlukan usaha yang kompleks ketimbang mendirikan sebuah gedung tinggi. Yang dibentuk bukanlah barang atau benda mati, melainkan manusia yang punya rasa, pikiran, karsa sekaligus potensi baik fisik maupun psikis. Dibutuhkan konsepsi dan program yang jelas dari seluruh stake-holders, dengan ekosistem yang ada dan tentunya kemauan dan kebijakan politik olahraga dari pemerintah untuk mencapai keberhasilan olahraga melalui atlet-atlet berprestasi.

Untuk itu, tak ada jalan lain selain usaha keras dan terencana serta terukur dalam program peningkatan dan perkembangan prestasi olahraga nasional.  Menilik proses yang dijalankan di berbagai negara, terutama Amerika Serikat dan China, diperlukan proses pembinaan jangka panjang yang terencana dan terarah melalui pengelolaan yang baik dengan dukungan  dana, sarana, dan prasarana yang memadai, dan sudah tentu diperlukan acuan atau pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam proses pembinaaan, yang dimulai dengan mengenal segala permasalahan serta program yang akan dilakukan, perencanaan tersebut saat ini sudah disiapkan oleh kantor kementerian Pemuda dan Olahrga dalam bentuk sebuah Grand Desain Keolahragaan Nasional (GDON).  

Berkaca dari hasil dan pencapaian negara kita pada Olimpiade Tokyo, maka sejatinya ukurannya harus disesuaikan pula dengan situasi dan kondisi terkini, terutama setelah badai pandemi Covid-19 mendera. Sebagaimana kita ketahui bersama, dampak pandemi ini secara signifikan memengaruhi program pembinaan olahraga prestasi, mulai dari hulu hingga hilir. Sebagai contoh, di era pandemi ini, bisa dikatakan tidak ada kompetisi olahraga skala nasional dan lokal yang terselenggara. Jika pun ada, ivennya dikaitkan dengan persiapan menuju iven internasional dan itu pun dilakukan secara internal dan bukan dalam sebuah kompetisi profesional. 

Salah satu buktinya adalah cabang bulutangkis, melalui PBSI yang biasanya ada Kejurnas dan bahkan Kejurda dan Kejuaran Junior berdasarkan tingkatan umur, maka sejak pandemi tidak lagi berjalan. Belum lagi cabang-cabang lain. Beranjak dari hal itu, maka pencapaian Indonesia yang masih mampu pulang membawa medali emas dan mengalami grafik positif dari segi perolehan medali sejak Olimpiade London (3 ajang terakhir), maka hemat penulis prestasi Greysia Polii dan kawan-kawan di Tokyo sudah sangat membanggakan. Di tengah kesuraman suasana dan keterbatasan kondisi di segala level dan aspek ternyata kita masih mampu menempatkan atlet kita di urutan pemuncak, meski hanya di satu nomor saja. 

*DBON dan Peran Seluruh Elemen*

Memajukan olahraga dan menempatkan olahraga sebagai bidang prioritas yang setara dengan bidang-bidang urgen lainnya adalah awal kesuksesan dunia olahraga Indonesia di masa depan. Jika itu sudah dilakukan, langkah selanjutnya adalah bagaimana memetakan permasalahan keolahragaan dan program strategis yang benar-benar aplikatif dan efektif mencapai target dan sasaran. Selanjutnya, dengan menempatkan olahraga sebagai salah satu bidang andalan, pada hakikatnya menempatkan pembangunan Sumber Daya Manusia sebagai pondasi membangun bangsa.

Untuk itu, kehadiran GDON (Grand Design Olahraga Nasional) sebagai payung regulasi dan strategi pembinaan olahraga nasional sangat urgen artinya untuk merintis formula terbaik meningkatkan prestasi olahraga nasional. Masyarakat olahraga  Sangat mengharapkan GDON disahkan menjadi Peraturan Presiden (PP) sehingga permasalahan dan program keolahragaan nasional dapat berjalan dengan baik untuk mencapai kecemerlangan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat bangsa. Kehadiran GDON  akan sangat membantu efektivitas dan efisiensi serta berperan penting membangun sinergitas seluruh elemen.

Dengan demikian, segenap potensi yang ada dapat digali lebih optimal dan keseriusan pemerintah memprioritaskan program pembinaan olahraga menjadi lebih konsisten.
Menuju kondisi itu, dan melihat keberlimpahan Sumber Daya Manusia yang menjadi modal dasar dimana jumlah anak usia 5-19 tahun berjumlah 66.605.828 (25% dari jumlah penduduk, data sensus tahun 2020). Konkritnya, untuk mencapai prestasi olahraga yang optimal harus diawali dari pemetaan permasalahan olahraga, baik olahraga rekreasi, olahraga pendidikan dan olahraga prestasi. 

Olahraga Prestasi sangat dipengaruhi ekosistem olahraga secara umum baik olahraga pendidikan dan olahraga rekreasi. Pembelajaran gerak dasar- merupakan ‘ABC-nya gerak” yang berhasil diperkenalkan sejak usia dini (TK) dan dimantapkan pada usia sekolah dasar merupakan awal yang sangat menentukan budaya aktif bergerak dan kesuksesan mempelajari berbagai keterampilan olahraga dikemudian hari. 

Tahap selanjutnya dalam upaya pembinaan prestasi adalah menemukan dan mendeteksi bakat anak dalam olahraga, setelah itu mengidentifikasi,yang merupakan proses menemukan anak yang paling berpotensi untuk unggul dimasa yang akan datang. Kemudian bibit unggul yang telah diperoleh datanya dikembangkan melalui pembinaan secara berjenjang dan berkesinambungan dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan (sport science). 

Talent Identification System seyogyanya menjadi sebuah program terencana yang menjadi pondasi pembinaan olahraga prestasi. Program T.I.S harus mampu terintegrasi ke dalam program pembinaan atlet secara jangka panjang (LTAD, Long Term Athletes Development). Hal ini disebabkan pembinaan yang efektif bagi atlet berprestasi tidak dapat dilakukan secara jangka pendek. Penelitian ilmiah menyatakan bahwa hal ini akan memakan waktu latihan antara 8 sampai 10 tahun.

Lebih jauh, keterkaitan erat antara membangun olahraga dan meningkatkan kualitas SDM adalah hal tak terbantahkan. Menempatkan perbaikan mutu olahraga mendesak dilakukan agar pelaku-pelaku dalam program pembangunan nasional secara umum adalah insan-insan yang dapat diandalkan baik secara intelektual maupun fisikal.

Dalam rangka memantapkan peluang berjayanya dunia olahraga Indonesia  pada Olympiade, semua pihak hendaklah dapat memahami berbagai hal yang terdapat dalam GDON, dengan demikian diperlukan berbagai program dan kegiatan untuk mensosialisasikan dan mendalami materi GDON, serta bagaimana GDON segera dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. 

Dengan demikian kita tidak dapat lagi  menjalankan program dan orientasi arah pembangunan olahraga nasional secara business as usual, karena hal tersebut telah terbukti  tidak mampu menjadikan kita berdaya pada even sekelas Olympiade. Perlu kerja keras dan pola pikir out of the box baik di tataran elit pemimpin maupun akar rumput. 

ISORI, melalui para ahli dan pakar di subbidang masing-masing siap membantu Kementerian Pemuda dan Olahraga dalam menyumbangkan ide, pikiran dan hasil penelitian yang bermakna dalam kerangka pembinaan olahraga berbasis ilmu pengetahuan (sport science).

SYAHRIAL BAKHTIAR adalah Guru Besar Ilmu Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang, Ketua Umum Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI) Pusat.

Sekjen DPP PERBASI Nirmala Dewi menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap atlet panjat tebing dan atlet kickboxing yang menjadi korban kasus kekerasan seksual dan kekerasan fisik.(foto:istimewa)
Rabu, 11 Maret 2026

Sejalan Dengan Menpora Erick, Sekjen DPP PERBASI Kecam Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Atlet dan Dorong Hukuman Setimpal

Sekretaris Jendral (Sekjen) DPP PERBASI Nirmala Dewi menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap atlet panjat tebing dan atlet kickboxing yang menjadi korban kasus kekerasan seksual dan kekerasan fisik, yang saat ini berkasnya sedang ditangani pihak kepolisian.

Menpora Erick Thohir yang mengecam keras terduga pelaku karena menyalahgunakan kewenangannya untuk menodai harkat dan martabat atlet.(foto:raiky/kemenpora.go.id)
Rabu, 11 Maret 2026

Atlet Kickboxing Ungkap Kekerasan Seksual oleh Pelatih, Menpora Erick: Kita Lindungi Atlet Sepenuhnya, Tidak Ada Tempat untuk Pelatih yang Menyalahgunakan Kekuasaan

Kasus dugaan pelecehan seksual ternyata bukan hanya terjadi di cabang olahraga (cabor) panjat tebing. Belakangan ini diketahui kasus serupa terjadi pada cabor kickboxing, seperti yang diungkapkan atlet putri Jawa Timur (Jatim) berinisial VAP (24) dalam akun media sosialnya.

Kemenpora RI memperpanjang pendaftaran seleksi jabatan tinggi madya untuk mengisi posisi Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga.(foto:Andre/kemenpora.go.id)
Selasa, 10 Maret 2026

Kemenpora Perpanjang Pendaftaran Seleksi Terbuka Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) memperpanjang pendaftaran seleksi jabatan tinggi madya untuk mengisi posisi Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga.

Masa depan tak ada yang tahu, itulah yang kini dirasakan atlet para bulutangkis Rina Marlina yang sukses meraih medali emas ASEAN Para Games (APG). (foto:Andre/kemenpora.go.id)
Minggu, 25 Januari 2026

Dari ART Bergaji Rp 150 Ribu per Bulan, Marlina Kini Sukses Hattrick Medali Emas ASEAN Para Games

Masa depan tak ada yang tahu, itulah yang kini dirasakan atlet para bulutangkis Rina Marlina yang sukses meraih medali emas ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand, pada laga final nomor Women's Single SH6 melawan wakil tuan rumah Thailand dua set langsung dengan skor telak 21-5, 21-1.

Atlet para atletik asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) Alvin Nomleni meraih medali emas ASEAN Para Games 2025 Thailand.(foto: Andre/kemenpora.go.id)
Sabtu, 24 Januari 2026

Alvin Nomleni Pemuda NTT Bangga Persembahkan Medali Emas untuk Indonesia di ASEAN Para Games 2025 Thailand

Atlet para atletik asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) Alvin Nomleni menyampaikan rasa bangganya usai sukses menyabet medali emas dan mempersembahkannya untuk Merah Putih pada laga ASEAN Para Games 2025 Thailand.

Rasa syukur tiada tara kepada Allah SWT dipanjatkan Mariyati, atlet dayung perahu naga atau dragon boat di SEA Games Ke-33 Thailand Tahun 2025.(foto:Thomas/kemenpora.go.id)
Senin, 19 Januari 2026

Atlet Dayung Perahu Naga Mariyati Ingin Daftar Haji dan Umrahkan Orang Tua dengan Bonus SEA Games 2025

Rasa syukur tiada tara kepada Allah SWT dipanjatkan Mariyati, atlet dayung perahu naga atau dragon boat di SEA Games Ke-33 Thailand Tahun 2025. Bersama timnya, perempuan asal Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel) itu ikut membawa Indonesia keluar sebagai juara umum dalam nomor cabang olahraga (cabor) ini.

Atlet muda panjat tebing Indonesia Ardana Cikal Damarwulan mengucapkan terima kasih atas bonus yang diberikan pemerintah di SEA Games 2025 Thailand.(foto:raiky/kemenpora.go.id)
Kamis, 15 Januari 2026

Ardana Cikal, Atlet Muda Panjat Tebing Indonesia Gunakan Bonus Untuk Investasi dan Kembangkan Fasilitas Panjat di Bandung

Atlet muda panjat tebing Indonesia Ardana Cikal Damarwulan merasa bangga dan mengucapkan terima kasih atas bonus yang diberikan pemerintah atas capaian prestasinya di SEA Games 2025 Thailand lalu dengan meraih emas di nomor lead putra.

Menpora Erick Dukung Ms Glow For Men Malang Half Marathon 2026
Senin, 09 Maret 2026

Menpora Erick Dukung Ms Glow For Men Malang Half Marathon 2026

Menpora Erick Thohir memberikan dukungan atas akan digelarnya ajang lomba lari Ms Glow For Men Malang Half Marathon 2026.

Menpora Erick Hadiri Kejuraan Asian Cadet and Junior Fencing 2026
Jumat, 27 Februari 2026

Menpora Erick Hadiri Kejuraan Asian Cadet and Junior Fencing 2026

Menpora Erick Thohir hadiri Asian Cadet and Junior Fencing Championship 2026 di JICC, Jumat (27/2/2026).

Silaturahmi dengan Media, Menpora Erick Sampaikan Program Besar Kemenpora
Selasa, 24 Februari 2026

Silaturahmi dengan Media, Menpora Erick Sampaikan Program Besar Kemenpora

Menpora Erick Thohir melakukan silaturahmi dengan media, Selasa (24/2) malam.

UPDATE INFORMASI

INSTAGRAM

FACEBOOK

banner-desktop banner-mobile