Adios Heroe, Adios Diego

Kamis, 26 November 2020
Bagikan:
SAYA tidak seberuntung beberapa senior yang bisa bertemu dan mewawancarai sang mega bintang, Diego Mando Maradona. Saya juga tidak sehebat para mantan pemain nasional junior: Bambang Nurdiansyah, David Sulaksmono, Mundari Karya dan kawan-kawan yang bisa b
SAYA tidak seberuntung beberapa senior yang bisa bertemu dan mewawancarai sang mega bintang, Diego Mando Maradona. Saya juga tidak sehebat para mantan pemain nasional junior: Bambang Nurdiansyah, David Sulaksmono, Mundari Karya dan kawan-kawan yang bisa b

SAYA tidak seberuntung beberapa senior yang bisa bertemu dan mewawancarai sang mega bintang, Diego Mando Maradona. Saya juga tidak sehebat para mantan pemain nasional junior: Bambang Nurdiansyah, David Sulaksmono, Mundari Karya dan kawan-kawan yang bisa berlaga di Piala Dunia junior, 1979 Tokyo, Jepang.

Tapi, saya bersyukur bisa meliputnya secara langsung di Piala Dunia 1990, Italia. Meski dibatasi, sebagai fotographer, saya bisa lebih dekat dibanding para wartawan tulis. Dari Indonesia hanya dua wartawan foto, senior dan guru saya Kartono Riyadi (Kompas) dan saya dari Mingguan BOLA.

Hari itu, Rabu (6/6/1990). FIFA dan panpel Puala dunia membuat acara khusus bagi para wartawan. Adalah Presiden Argentina, Carlos Menem, bersiap akan memberikan paspor Diplomatik kepada kapten tim nasional Argentina, Maradona. Dalam rundown yang dibagikan kepada para wartawan dari seluruh dunia, acara akan dimulai pukul 14.oo waktu Milan.

Tapi, acara baru dimulai setelah Menem dan para wartawan dunia menunggu lebih dari tiga jam. Menem menggunakan pakaian lengkap, jas warna hitam dengan dasi biru. Maradona muncul dengan training atas berwarna biru dongker, celana pendek warna putih, sudah ada bercak kotoran debu, kaos kaki juga sama kotornya dan sepatu bola.

Begitu muncul, sang presiden langsung menyambut dengan berpelukan. Ada bekas-bekas kotoran coklat yang sontak menodai baju putih sang presiden. Saat itu sang presiden memperoleh apresiasi tersendiri karena mau menunggu dan patuh pada protokol FIFA yang membatasi segalanya. 

Maradona? Wartawan olahraga negeri Italia yang berasal dari luar Napoli, hampir semua menyindir sang bintang karena dianggap tidak menaruh hormat bukan saja pada seorang presiden tapi juga tidak pada para wartawan yang telah menunggunya begitu lama.

Kenangan lain saya dapatkan saat jelang hingga laga final Piala Dunia 1990 antara Argentina vs Jerman Barat, Ahad (8/7/1990). Dalam laga itu, Jerbar bisa mengalahkan Argentina 1-0 melalui penalti yang diselesaikan oleh Andreas Brehme, pemain belakang the Panzer. 

Final yang dimainkan di Stadion Olimpico, Roma itu, disaksikan 73.603 penonton, 20 di antaranya wartawan dan kolomnis dari Indonesia. Sumohadi Marsis (BOLA), Budi Sambasi, Rudi Badil, Suryo Pratomo (sekarang Dubes RI untuk Singapura), kolomnis Ronny Pattinasari (Kompas), Yesayas, kolomnis Rusdi Bahalwan (Surya), Eddy Lahengko, Ronny Pangemanan (Suara Pembaharuan), Johny Tamaela (Pikiran Rakyat), Isyanto (Pos Kota), Heru Suprantio (Suara Karya), Erwiantoro, Amir Machmud (Suara Merdeka), Barce Nazar (Wawasan), Rahmat, kolomnis (Sarman Panggabean (Analisa), Yan Abut (Jayakarta), Andi Darussalam Tabussala (RCTI) dan lain-lain.

Adegan final saya memperoleh jepretan yang alhamdulillah terbilang beruntung. Adegan Maradona sedang duel dengan Guido Buchwald, sangat berkesan buat saya. Gambar itu sempat disomasi oleh salah satu kantor berita asing. 
BOLA tak ragu memberi kredit foto atas nama saya, tapi menurut perwakilan kantor berita itu, foto itu miliknya.

Sepulang dari Italia, saya sempat disidang. Saya tunjukan klise saya, ada beberapa adegan yang sama. Foto itu berseri, lebih dari 10 adegan. Sementara klise yang ditunjukan kantor berita itu hanya ada dua. Dan setelah diamati, ternyata gambar saya memang lebih jelas.

Kok bisa? Itulah bedanya, saya bukan hanya mengambil gamba, tapi juga menulis. Saya hanya membawa dua kamera, satu dengan lensa 180 makro dan satu kamera dengan lensa 300 mm. Saya persiapkan dan operasikan sendiri. 

Sementara wartawan foto mereka memiliki membawa dan menggunakan banyak kamera, dan dipersiapkan oleh asisten. Pada saat adegan itu terjadi, si wartawan baru saja 'melempar' kamera yang dipakai dan disodorkan oleh asisten kamera baru. Saya sudah menunggu adegan itu, dia baru kobsolidasi. 
Akibatnya, ya seperti hasilnya, gitulah.

Ada adegan lain yang sangat menarik jelang pertarungan. Ketika bis yang membawa Argentina memasuki area stadion. Maradona membuka pintu depan bis dan berdiri untuk melambaikan tangan pada suporter Napoli yang bergabung dengan suporter Argentina. Sontak penonton Italia yang di laga final itu membela Jerbar, marah.

Saya yang saat itu sedang berjalan bersama Bang Todung Lumban Raja, Ketua Umum Persija dan Toni Badak asisustennya, sontak terkejut. Perkelahian pun tak terhindarkan. Bagi orang Italia warga Napoli bukanlah warga negara. "Mereka jelas membela Argentina saat melawan Italia pada laga semifinal yang dimainkan di Napoli," kata beberapa di antara mereka.

Tak heran, saat Maradona masuk ke stadion, pekik yang keras dikumandangkan oleh suporter Italia: " Uccidere Diego, uccidere Diego!" (Bunuh Diego, bunuh Diego!). Dan ketika akhirnya Jerbar menjadi juara, warga Italia non Napoli tumpah ikut merayakan pesta orang-orang Jerman.

Ya, Diego Maradona, dimana pun selalu mampu memberikan apa saja. Saat itu banyak orang yabg bersrpakat menyatakan bahwa Maradona lebih hebat dari Pele. Tapi, hari ini Tuhan membuktikan Pele lebih panjang usianya.

Selamat jalan Maradona.. adios heroe

M. Nigara
Staf Khusus Menpora RI Bidang Pengembangan dan Prestasi Olahraga

Menpora Erick berdialog dengan para peserta Wirasena Youth Camp 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (26/10). (foto:Yayan/kemenpora.go.id)
Senin, 26 Oktober 2026

Berdialog Langsung dengan Peserta Wirasena Youth Camp, Menpora Erick Ajak Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Erick Thohir, menegaskan pentingnya membangun kultur patriotik, gigih, dan berempati bagi generasi muda guna menghadapi tantangan zaman.

Peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 mengunjungi Kampung Pramuka Cemara di Kelurahan Tugu Utara, Jakarta Utara, pada Minggu (25/10), untuk mempelajari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.(dok.Kemenpora)
Minggu, 25 Oktober 2026

Tabungan Sampah Bisa untuk Bayar Sekolah, Peserta Wirasena Youth Camp Belajar dari Kampung Pramuka Cemara

Peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 mengunjungi Kampung Pramuka Cemara di Kelurahan Tugu Utara, Jakarta Utara, pada Minggu (25/10), untuk mempelajari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung praktik pengolahan sampah melalui bank sampah, pemanfaatan sampah organik, hingga sistem pembayaran biaya pendidikan anak usia dini (PAUD) menggunakan sampah.

Peserta Wirasena Youth Camp 2026 mengikuti pembelajaran di luar kelas melalui kunjungan edukatif ke tiga lokasi di Jakarta, Minggu (25/10). (dok.Kemenpora)
Minggu, 25 Oktober 2026

Wirasena Youth Camp 2026 Ajak Peserta Belajar Patriotik, Gigih, dan Berempati Lewat Tur Jakarta

Peserta Wirasena Youth Camp 2026 mengikuti pembelajaran di luar kelas melalui kunjungan edukatif ke tiga lokasi di Jakarta, Minggu (25/10). Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat nilai patriotik, gigih, dan berempati melalui pengenalan inovasi lingkungan, sejarah dan budaya, serta perjuangan bangsa Indonesia.

Baru lulus SMA pada 2026, Raffi Abya Saputra sudah punya pengalaman yang tak biasa bagi anak seusianya. Pemuda asal Kabupaten Malinau,(dok.Gilang/Kemenpora)
Sabtu, 24 Oktober 2026

Baru Lulus SMA, Peserta WYC 2026 Raffi dari Malinau Sudah Bicara Isu Hutan di COP29 Baku, Azerbaijan

Baru lulus SMA pada 2026, Raffi Abya Saputra sudah punya pengalaman yang tak biasa bagi anak seusianya. Pemuda asal Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara itu pernah menjadi pembicara di Paviliun Indonesia dalam konferensi iklim COP29 di Baku, Azerbaijan.

Ni Made Lifia Kristina justru memilih jalan berbeda. Gadis berusia 21 tahun asal Bali ini berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya.(dok.Yayan/Kemenpora)
Jumat, 23 Oktober 2026

Belajar dari Wirasena Youth Camp 2026, Lifia Siapkan Langkah Baru untuk Literasi dan Budaya BalI

Di tengah kehidupan anak muda yang lekat dengan tren digital dan budaya populer, salah satu peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, Ni Made Lifia Kristina justru memilih jalan berbeda. Gadis berusia 21 tahun asal Bali ini berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya.

Maulana Rifky Yavianda punya cara tersendiri menghadapi tekanan jelang Asian Para Games 2026. Perenang andalan Indonesia itu memilih kembali mengingat kecintaannya pada renang sejak usia empat tahun agar bisa tampil lepas di Nagoya, Jepang.(dok.NPCI)
Jumat, 16 Oktober 2026

Juara Bertahan Asian Para Games, Rifky Pilih Tampil Lepas di Nagoya

Maulana Rifky Yavianda punya cara tersendiri menghadapi tekanan jelang Asian Para Games 2026. Perenang andalan Indonesia itu memilih kembali mengingat kecintaannya pada renang sejak usia empat tahun agar bisa tampil lepas di Nagoya, Jepang.

Sumaya sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball nomor Women's Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. (dok. Gilang/Kemenpora)
Senin, 21 September 2026

Dua Tahun Tekuni Teqball, Debut Sumaya Sukses Raih Medali Perak Pertama untuk Indonesia di Asian Games 2026

Sumaya sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball nomor Women's Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Pertama Kalinya Dispora Se-Indonesia Dikumpulkan, Menpora Erick Ajak Daerah Bangun Perspektif Baru Pemuda dan Olahraga
Rabu, 21 Oktober 2026

Pertama Kalinya Dispora Se-Indonesia Dikumpulkan, Menpora Erick Ajak Daerah Bangun Perspektif Baru Pemuda dan Olahraga

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengajak seluruh jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan pemangku kepentingan di seluruh daerah untuk melakukan transformasi fundamental.

Menpora Erick Thohir Buka Indonesian Padel League 2026
Rabu, 07 Oktober 2026

Menpora Erick Thohir Buka Indonesian Padel League 2026

Indonesian Padel League 2026 menjadi langkah pengembangan ekosistem padel nasional melalui penyelenggaraan kompetisi liga sekaligus penguatan pembinaan atlet dan tim nasional. Perkembangan tersebut turut melanjutkan momentum prestasi padel Indonesia yang meraih medali perak pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Momen Pertandingan Final FIFA ASEAN CUP 2026 Antara Indonesia Melawan Thailand
Senin, 05 Oktober 2026

Momen Pertandingan Final FIFA ASEAN CUP 2026 Antara Indonesia Melawan Thailand

Timnas Indonesia menutup final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan atas Thailand melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 hingga 120 menit. Perayaan gelar juara di SUGBK semakin meriah dengan kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden FIFA Gianni Infantino, Menpora Erick Thohir, serta penampilan Anggun C. Sasmi dan Judika.

UPDATE INFORMASI

INSTAGRAM

Goverment Public Relation

Banner desktop HSP 2026 Banner website HSP 2026